Senin, 19 Mei 2014

Hati yang Berbicara


















Kau ingat pertama kali kita bertemu?

Iya, ingat. Kenapa?

Saat itu kita baru saling mengenal satu sama lain, sampai kita bisa sedekat ini.
Apakah kau ingat dalam suka dan duka kita selalu bersama?

Iya, aku ingat.

Apakah kau pernah pikirkan itu baik-baik?

Untuk apa?

Untuk apa? Apakah kau lupa? Siapa yang membantumu jika engkau dalam keadaan sakit? Siapa yang membantumu di saat kau harus ke kamar mandi 5 kali dalam sehari? Siapa yang mendekatimu jika teman-temanmu menjauhimu? Siapa yang selalu mempunyai waktu untuk dirimu padahal orang itu tengah sibuk?

Hiks.. hiks.. dirimu.

Tak perlu kau tangisi. Kau ingat? Sekarang kau menjauhiku tanpa sebab. Sebenarnya, apa yang salah pada diriku? Kau pergi begitu saja, meninggalkan diriku yang bingung akan sikap mu.

Hiks.. maafkan aku.

Apakah maaf itu cukup?
kau tahu selama ini aku begitu kesepian, tanpa dirimu. Setiap bertemu dengan dirimu, ku sempatkan untuk menyapa dirimu. Tapi apa balasan yang kau berikan? Jawaban acuh yang kau berikan kepadaku. Kau lebih memilih pergi bersama teman-temanmu yang pernah menyakitimu, bersama dia.

Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan ku ini?

Tidak ada, kau hanya perlu melanjutkan hidupmu tanpa harus memikirkan perasaanku ini. Karena sebentar lagi aku akan pergi meninggalkanmu. Mungkin inilah yang terbaik untuk kita. Aku akan berusaha untuk melupakanmu dan aku harap engkau bisa lebih cepat melupakanku, seperti saat kemarin.

Jangan tinggalkan ku, Hiks.. hiks..


Maaf, tekatku sudah bulat, mungkin Persahabatan ini cukup sampai di sini. Aku harap engkau bisa mendapatkan sahabat yang lebih baik dariku. Terima kasih atas luka yang telah engkau berikan kepadaku, luka beberapa bulan terakhir. Ku harap kau bisa melupakanku.

Minggu, 18 Mei 2014

Sandal Selen

Lihatlah sandal itu!

Sendal apa?

Itu sandal yang tidak bermodel, tidak jelas dan berbeda-beda

Iya, kenapa?

Kita harus seperti sandal itu.

Maksud mu?
               
              Lihatlah sandal itu baik-baik, tidak bermodel, tidak jelas dan berbeda-beda, terkadang sandal itu sepasang kiri atau sepasang kanan. Akan tetapi sandal itu mempunyai daya tarik, sehingga banyak orang yang ingin memakainya.

Lalu, apa hubungannya dengan kita?

Kamu tahu apa daya tarik dari sandal itu?

Tidak, apa?
               
              Karena sandal itu selalu ada di sana, di tempat orang yang membutuhkannya. Meskipun sandal itu harus terguyur oleh derasnya hujan, bercampur dengan tanah-lumpur, bahkan terbuang entah kemana. Akan tetapi sandal itu tetap bertahan di sana, bertahan agar terus di gunakan. Dia tidak peduli dengan semua tantangan yang mendekat. Yang dia fikirkan ke senangan orang jika melihat dirinya. Walaupun dia kotor, akibat bercampur dengan tanah dan air hujan. Aku yakin banyak orang yang ingin memakainya.         Apakah kau mengerti dengan penjelasanku ini?

Hmm… Tidak, bisakah kau memberitahukan dengan lebih mudah?
                
               Artinya adalah meskipun banyak cobaan yang engkau terima, kau harus tetap bertahan dengan sabar. Karena kesabaran yang engkau miliki adalah daya tarik dirimu sendiri. Tak butuh wajah yang menawan, tak butuh harta yang melimpah, yang engkau butuhkan hanyalah Sabar dan Ikhtiar. Berikhtiar dari kesabaran akan membuahkan hasil yang membanggakan dirimu sendiri. Itulah kunci yang engkau butuhkan untuk menjalani damainya kehidupan.

Oh Iya, aku mengerti. Jadi, berbanggalah menjadi sandal selen. Itukan maksudmu?


               Iya, meskipun hanya menjadi sandal selen biasa, yang hanya dapat membantu tanpa harus menjadi sesuatu yang luar biasa, dan meskipun engkau harus berkorban hanya untuk membantu. Aku yakin dengan kesabaran dan ikhtiar itulah orang lebih memilihnya. Tanpa harus menunjukan bahwa dia itu pintar, luar biasa, bisa, aku yakin dia pasti selalu di butuhkan oleh orang lain. Karena dia memang ingin membantu dengan sepenuh hati, walau cobaan datang bertubi-tubi, walau rintangan terus menerjang, walau badai terus menanti, dengan kesabaran itu, dia mampu menghadapi itu semua. Dari kesabaran dan ikhtiar tersebut pula lahirlah buah yang begitu indah.