Kamis, 21 Januari 2016

Broken Heart

Ketika hati ini terluka, hanya menangis yang aku butuhkan, akan tetapi entah mengapa rasanya air mata ini telah mengering.
bahkan sakit akan merindukan dirinya, aroma tubuhnya, tatapannya, pelukannya pun tidak cukup membuat  aku menangis.
              Disaat hatiku mengangis, mataku malah tertawa, dan bibirku tersenyum. Senyum yang terlihat begitu bahagia, tawa yang begitu lepas. Akan tetapi taukah bahwa sesungguhnya tubuh ini menangis. Tubuh ini tak mampu menutupi kesedihan yang amat sangat. Tak dapat kah aku membunuh rasa sakit ini? Segala hal telah ku coba. Tapi bayangan akan rasa sakit itu terus menusukku hingga aku terjatuh.
              Mengapa begitu susahnya mata ini berkata jujur. Entah mengapa otakku jadi membenci kata “cinta”. Entah mengapa otakku menyesali pernah merasakannya. Akan tetapi, hati ini berkata aku ingin merasakannya lagi, ingin mencintai kata “cinta”. Padahal hati ini telah dilukai oleh kata itu. Salahkan hatiku menginginkannya?
              Memang bukan sepenuhnya adalah salahnya, aku juga salah karna mementingkan ego. Aku salah karna aku bersikap seperti anak kecil. Aku bosan dengan kedewasaan. Aku penat dengan semuanya, aku hanya ingin menjadi apa yang aku inginkan tanpa ada yang melarang. Tapi engkau malah menjauhiku, menjauhi hati ini.
              Taukah kau apa yang kuingin kan saat ini. Aku hanya menginginkan dirimu disampingku, dirimu yang telah melukai ku. Entah mengapa aku ingin menangis dalam pelukkan hangatmu, seperti saat malam itu. Malam yang selalu kuingat setiap detiknya. Pelukkan hangatmu yang membuatku terdiam dalam tangisku, Ciuman lembutmu, Usapan lembut pada air mataku,  Janjimu, Janjiku, semuanya. Masih terbayang  jelas dalam benakku.

              Dan ketika ingatan itu kembali menghantuiku, aku menangis. Aku menangis dalam diam. Melanggar janjiku, dan aku tersadar bahwa ego ini tercipta karna aku begitu merindukanmu. Merindukan semua yang ada dalam dirimu. Semuanya.