Ketika hati ini terluka, hanya
menangis yang aku butuhkan, akan tetapi entah mengapa rasanya air mata ini
telah mengering.
bahkan sakit akan merindukan dirinya, aroma tubuhnya, tatapannya, pelukannya pun tidak cukup membuat aku menangis.
bahkan sakit akan merindukan dirinya, aroma tubuhnya, tatapannya, pelukannya pun tidak cukup membuat aku menangis.
Disaat
hatiku mengangis, mataku malah tertawa, dan bibirku tersenyum. Senyum yang
terlihat begitu bahagia, tawa yang begitu lepas. Akan tetapi taukah bahwa
sesungguhnya tubuh ini menangis. Tubuh ini tak mampu menutupi kesedihan yang
amat sangat. Tak dapat kah aku membunuh rasa sakit ini? Segala hal telah ku
coba. Tapi bayangan akan rasa sakit itu terus menusukku hingga aku terjatuh.
Mengapa
begitu susahnya mata ini berkata jujur. Entah mengapa otakku jadi membenci kata
“cinta”. Entah mengapa otakku menyesali pernah merasakannya. Akan tetapi, hati
ini berkata aku ingin merasakannya lagi, ingin mencintai kata “cinta”. Padahal
hati ini telah dilukai oleh kata itu. Salahkan hatiku menginginkannya?
Memang
bukan sepenuhnya adalah salahnya, aku juga salah karna mementingkan ego. Aku
salah karna aku bersikap seperti anak kecil. Aku bosan dengan kedewasaan. Aku
penat dengan semuanya, aku hanya ingin menjadi apa yang aku inginkan tanpa ada
yang melarang. Tapi engkau malah menjauhiku, menjauhi hati ini.
Taukah
kau apa yang kuingin kan saat ini. Aku hanya menginginkan dirimu disampingku,
dirimu yang telah melukai ku. Entah mengapa aku ingin menangis dalam pelukkan
hangatmu, seperti saat malam itu. Malam yang selalu kuingat setiap detiknya.
Pelukkan hangatmu yang membuatku terdiam dalam tangisku, Ciuman lembutmu, Usapan
lembut pada air mataku, Janjimu, Janjiku,
semuanya. Masih terbayang jelas dalam
benakku.
Dan
ketika ingatan itu kembali menghantuiku, aku menangis. Aku menangis dalam diam.
Melanggar janjiku, dan aku tersadar bahwa ego ini tercipta karna aku begitu
merindukanmu. Merindukan semua yang ada dalam dirimu. Semuanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar